Tampilkan postingan dengan label Manajemen Keluarga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Manajemen Keluarga. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Oktober 2013

Testimoni Istri Menunjukkan Akhlak Sebenarnya Dari Seorang Lelaki

Mungkin tidak jarang kita mendengar seorang laki-laki yang sangat baik dengan kita ketika bergaul, akan tetapi ternyata dia hobi main pukul dengan istrinya dan suka membentak serta menghardik istrinya. Ya, salah satu tolak ukur akhlak sebenarnya laki-laki adalah penilaian dari istri. Mengapa?
Karena suami umumnya mempunyai “kekuasaan” atas istri dalam rumah tangga, terkadang ia bisa berbuat semena-mena dengan istrinya karena punya kemampuan untuk melampiaskan akhlak jeleknya dan hal ini jarang diketahui oleh orang banyak. Sebaliknya jika di luar rumah mungkin ia tidak punya tidak punya kemampuan melampiaskan akhlak jeleknya baik karena bisa jadi statusnya yang rendah (misalnya ia hanya jadi karyawan rendahan) atau takut dikomentari oleh orang lain.
Wanita adalah mahkluk yang lemah di hadapan laki-laki, jika seseorang bisa mengusai dirinya dalam bermuamalah dengan orang yang lemah maka itu penampakan akhlaknya. Sebagaimana yang dijelaskan oleh Syaikh Al-Mubarakfuriy,
“Karena kesempurnaan iman akan mengantarkan kepada kebaikan akhlak dan berbuat baik kepada seluruh manusia. Dan sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, karena mereka para wanita adalah tempat meletakkan kasih sayang disebabkan kelemahan mereka.”1
Hal ini sesuai dengan bimbingan dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:
أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ إِيْمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا وَخِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ خُلُقًا
Orang yang imannya paling sempurna diantara kaum mukminin adalah orang yang paling bagus akhlaknya di antara mereka, dan sebaik-baik kalian adalah yang terbaik akhlaknya terhadap istri-istrinya2
Beliau juga bersabda:
خَيْرُكُمْخَيْرُكُمْلِأَهْلِهِوَأَنَاخَيْرُكُمْلِأَهْلِي
Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku
Demikianlah bahwa akhlak di seseorang bersama istrinya adalah akhlak sebenarnya. Muhammad bin Ali Asy-Syaukani rahimahullah berkata,
“Pada hadits ini terdapat peringatan bahwa orang yang paling tinggi kebaikannya tertinggi dan yang paling berhak untuk disifati dengan kebaikan adalah orang yang terbaik bagi istrinya. Karena istri adalah orang yang berhak untuk mendapatkan perlakuan mulia, akhlak yang baik, perbuatan baik, pemberian manfaat dan penolakan mudharat. Jika seorang lelaki bersikap demikian maka dia adalah orang yang terbaik, namun jika keadaannya adalah sebaliknya maka dia telah berada di sisi yang lain yaitu sisi keburukan.
Banyak orang yang terjatuh dalam kesalahan ini, engkau melihat seorang pria jika bertemu dengan istrinya maka ia adalah orang yang terburuk akhlaknya, paling pelit, dan yang paling sedikit kebaikannya. Namun jika ia bertemu dengan orang lain, maka ia akan bersikap lemah lembut, berakhlak mulia, hilang rasa pelitnya, dan banyak kebaikan yang dilakukannya. Tidak diragukan lagi barangsiapa yang demikian kondisinya maka ia telah terhalang dari taufik (petunjuk) Allah dan telah menyimpang dari jalan yang lurus. Kita memohon keselamatan kepada Allah.”4

Catatan Kaki

1 Tuhfatul Ahwazi 4/273, Darul Kutub Al-‘ilmiyah, Beirut, Syamilah
2 HR At-Thirmidzi no 1162,Ibnu Majah no 1987 dan dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani dalam As-Shahihah no 284
4 Nailul Authar 6/245-256, Darul hadits, Mesir, cet. I, 1413 H, Syamilah
Penyusun: dr. Raehanul Bahraen
Artikel Muslimah.or.id
Hikmah yang saya peroleh:                                                                                               1. Testimoni istri menunjukkan akhlak sebenarnya seorang suami dapat dibenarkan manakala istri memiliki sifat amanah (baik perkataan maupun perbuatannya).                                            
2. Suami perlu berilmu bagaimana menjadi suami yang benar (berdasar timbangan syar'i tentunya). Dengan ilmu tersebut insyaAlloh kepemimpinan suami menjadi payung teduh bagi istri dan anggota keluarga lainnya.                                                                                                           3. Akhlak menjadi cerminan isi hati seseorang. Maka agar akhlak baik perlu memperbaiki hati dengan tempaan ilmu, amal dan sabar.                                                                               4. Membiasakan diri untuk bersikap rendah hati serta menganggap siapapun sebagai raja meskipun orang tersebut nyatanya hanya pembantu rumah tangga kita. Hal ini untuk membiasakan kita untuk bersikap santun kepada siapa saja tanpa memandang jabatan mereka.                             5. Istri, ibu dari anak-anak kita.. yang darinya lahir generasi yang terus sujud dan bertakbir kepada Alloh Subhanahu wa Ta'ala.  

Minggu, 12 Mei 2013

Hak Bertetangga

Diantara bukti bahwa islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk berbuat baik kepada sesama, terutama kepada orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Diantaranya tetangga. Hubungan tetangga menjadi penting, karena tetangga memiliki hak yang lebih dibandingkan lainnya. Tidak heran jika ada beberapa ulama yang menulis buku khusus membahas tentang tetangga, seperti Imam Al-Humaidi (w. 219 H) dan Abu Nuaim Al-Asbahani (w. 430 H), yang menulis satu kumpulan hadis khusus tentang tetangga, kemudian Ad-Dzahabi (w. 748 H), beliau memiliki buku khusus berjudul Haqqul Jiwar (Hak bertetangga), dan buku ini sudah diterbitkan. 

Hak bertetangga dalam Al-Quran
Allah berpesan dalam Al-Quran (yang artinya), ”Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, rekan di perjalanan, Ibnu Sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan apa yang dia miliki” (QS. An-Nisa : 36).

Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Oleh karena itu, bersikap baik kepada tetangga adalah satu hal yang diperintahkan dan ditekankan, baik dia muslim maupun kafir, dan itulah pendapat yang benar” (Tafsir Al-Qurthubi, 5/184)

Cakupan Kata Tetangga
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kata tetangga mencakup muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman dekat maupun musuh, pendatang maupun penduduk asli, yang suka membantu maupun yang suka merepotkan, yang dekat maupun yang jauh, yang rumahnya berhadapan maupun yang yang bersingkuran… Dan masing-masing disikapi dengan baik sesuai keadaannya” (Fat-hul Baari, 10/441). 

Batasan Jumlah Tetangga
Ulama berbeda pendapat tentang batasan tetangga.
Pertama, semua orang yang tinggal satu kampung bersamanya.
Pendapat ini berdalil dengan firman Allah di surat Al-Ahzab (yang artinya), “Jika orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu) tidak menghentikan aksinya, niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar” (QS. Al-Ahzab: 60).
Pada ayat ini Allah menyebut semua penghuni Madinah sebagai tetangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, semua orang yang menempati 40 rumah dari semua penjuru arah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar membawakan keterangan dari ’Aisyah, batasan tetangga adalah 40 rumah dari segala penjuru, demikian pula pendapat dari Al-Auza’i. Ibnu Hajar juga membawakan riwayat lain, ”Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, “Tetangga adalah 40 rumah, ke kanan, kiri, belakang dan depan. (Fat-hul Baari, 10/447).

Hadits-hadits tentang bertetangga
1. Larangan keras mengganggu tetangga
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya” (HR. Bukhari 6016 & Muslim 46).

2. Wasiat Jibril untuk memperhatikan tetangga
Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan, “Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya” (HR. Bukhari 6014 & Muslim 2624).

3. Menumbuhkan semangat berbagi dengan tetangga
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah), mewasiatkan kepadaku,”Apabila kamu memasak, perbanyaklah kuahnya. Kemudian perhatian penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan baik” (HR. Muslim)

4. Tidak mengganggu tetangga bagian dari iman
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu saudaranya” (HR. Bukhari 5185 & Muslim 47)

5. Menyakiti tetangga lebih besar dosanya
Dari Miqdad bin Aswad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan dibandingkan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya… seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih ringan dibandingkan dia mencuri satu rumah tetangganya” (HR. Ahmad 23854 dan dinyatakan Syu’aib Al-Arnauth sanadnya bagus)

masih ada beberapa hadits lagi terkait hubungan dengan tetangga.. selengkapnya kunjungi link berikut ini ya.. http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/hak-bertetangga

Rabu, 01 Mei 2013

Mendidik Generasi Rabbani

At Tauhid edisi VII/16, Diposting 21 April 2011

Oleh: Ammi Nur Ba’its 

Semua masyarakat yang beriman mendambakan generasi masa depan adalah generasi rabbani. Bahkan mereka sendiri berharap bisa menjadi generasi rabbani itu sendiri. Karena semua sadar, bahwa label ‘rabbani’ menggambarkan generasi emas umat islam. Bagaimanakah cara mewujudkan generasi idaman ini?… 

Pengertian istilah “Rabbani” 
Dalam banyak kesempatan pidato atau ceramah yang bertajuk kepemudaan, tidak lepas dari istilah ini. Namun, seolah sudah menjadi kebiasaan masyarakat, mereka yang mendengarkan istilah baru, hanya terkadang ditelan ‘mentah-mentah’, tanpa peduli maknanya. Kita berharap, semua sikap ‘menahun’ semacam ini tidak selamanya dilestarikan, disamping itu, semoga tidak menimbulkan kesalah-pahaman terhadap inti informasi yang disampaikan. Berikut adalah keterangan para ulama tentang istilah ‘rabbani’, yang kami sarikan dari kitab Zaadul Masir fi Ilmi at-Tafsir, karya Ibnul Jauzi (1/298): 

Ditinjau dari tinjauan bahasa, Ibnul Anbari menjelaskan bahwa, kata ‘rabbani’ diambil dari kata dasar Rabb, yang artinya Sang Pencipta dan Pengatur makhluk, yaitu Allah. Kemudian diberi imbuhan huruf alif dan nun (rabb+alif+nun= Rabbanii), untuk memberikan makna hiperbol. Dengan imbuhan ini, makna bahasa ‘rabbani’ adalah orang yang memiliki sifat yang sangat sesuai dengan apa yang Allah harapkan. Kata ‘rabbani’ merupakan kata tunggal, untuk menyebut sifat satu orang. Sedangkan bentuk jamaknya adalah rabbaniyun. 

Terdapat beberapa riwayat, baik dari kalangan sahabat maupun tabi’in, tentang definisi istilah: “rabbani”. Diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib radliallahu ‘anhu, beliau mendefinisikan “rabbani” sebagai berikut: Generasi yang memberikan santapan rohani bagi manusia dengan ilmu (hikmah) dan mendidik mereka atas dasar ilmu. Sementara Ibnu Abbas radliallahu ‘anhuma dan Ibnu Zubair mengatakan: Rabbaniyun adalah orang yang berilmu dan mengajarkan ilmunya. Qatadah dan Atha’ mengatakan: Rabbaniyun adalah para fuqaha’, ulama, pemilik hikmah (ilmu). Imam Abu Ubaid menyatakan, bahwa beliau mendengar seorang ulama yang banyak mentelaah kitab-kitab, menjelaskan istilah rabbani: Rabbani adalah para ulama yang memahami hukum halal dan haram dan menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Antara Ilmu dan Seorang ‘Rabbani’
Dari semua keterangan di atas, dapat diambil sebuah benang merah bahwa semua ulama yang menjelaskan tentang pengertian istilah rabbani, mereka sepakat bahwa label ‘rabbani’ hanya digunakan untuk menyebut seseorang yang memiliki sifat-sifat berikut:

Pertama, berilmu dan memiliki pengetahuan tentang al-Qur’an dan sunnah.
Kedua, mengamalkan ilmu yang telah diketahuinya.
Ketiga, mengajarkannya kepada masyarakat.
Sebagian ulama menambahkan sifat keempat, yaitu mengikuti pemahaman para sahabat dan metode mereka dalam beragama. Karena sahabat merupakan standar kebenaran bagi umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kurang dari salah satu diantara sifat di atas, tidak dapat disebut seorang rabbani. Hal ini sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnul Arabi, ketika ditanya tentang makna ‘rabbani’, beliau mengatakan: Apabila seseorang itu berilmu, mengamalkan ilmunya, dan mengajarkannya maka layak untuk dinamakan seorang rabbani. Namun jika kurang salah satu dari tiga hal di atas, kami tidak menyebutnya sebagai seorang rabbani. (Miftah Dar as-Sa’adah, 1/124).

Antara Ilmu dan Ibadah
Inti jawaban, mengapa seseorang itu layak dinamakan rabbani adalah karena dia telah melakukan amalan yang sangat mendekatkan dirinya kepada Ar-Rabb (Allah), sebagaimana pengertian ‘rabbani’ dari tinjauan bahasa. Karena itu, dari keterangan para ulama di atas, akan muncul satu pertanyaan, apa kaitan antara pengertian ulama tentang istilah ‘rabbani’ dengan makna kata ini secara bahasa. Atau dengan kata lain, apa kaitan antara ilmu, yang menjadi syarat mutlak seorang rabbani dengan ibadah kepada Allah?

Dijelaskan oleh Ibnul Anbari, keterkaitannya karena ilmu merupakan bentuk ibadah kepada Allah ta’ala. Disamping itu, seseorang hanya akan bisa melakukan ibadah kepada Allah, jika dia memahami tata cara ibadah yang sesuai dengan apa yang Allah kehendaki. Sehingga kata kunci dalam masalah ini adalah ‘ilmu’ (Zaadul Masir, 1/298). Hal ini sebagaimana dikatakan oleh Imam az-Zuhri – salah seorang ulama tabi’in –: Tidak ada satu bentuk peribadatan kepada Allah yang lebih mulia dibandingkan ilmu. (Hilyah al-Auliya, 2/61). Demikian juga dikatakan oleh Imam Ahmad: Mencari ilmu merupakan amalan yang paling mulia, bagi siapa saja yang niatnya benar. (Syarh Muntaha al-Iradat, 2/26). Hal yang semisal juga dikatakan Abdullah bin Mubarak, Saya tidak mengetahui ada sesuatu yang lebih mulia setelah nubuwah (kenabian) melebihi kegiatan menyebarkan ilmu. (Mausu’ah ad-Din an-Nashihah, 1/301)

Menuju Generasi Rabbani
Mendidik masyarakat menjadi generasi rabbani merupakan tanggung jawab semua orang. Karena semua manusia memiliki tanggung jawab untuk...
untuk membaca lebih lanjut, klik link berikut.. semoga bermanfaat :)
http://buletin.muslim.or.id/keluarga/mendidik-generasi-rabbani

Rabu, 22 Agustus 2012

Jadwalkan Rencanamu

Setiap keluarga tentu memiliki rencana kegiatan, misalnya berwisata pada liburan kenaikan kelas kakak, atau rencana ayah membelikan sepeda baru adik jika bisa juara 1 saat kenaikan kelas 3 nanti.

Wah! siapa yg tidak senang diajak berwisata! Siapa pula yg tidak suka dibelikan sepeda baru! Mau dong! Mau!

Dari dua contoh di atas tampak ternyata rencana kita (yg berifat positif tentunya) bisa memberikan satu semangat baru, meskipun toh belum dilaksanakan. Apalagi jika nanti telah dilaksanakan, tentunya benar-benar memberi dampak positif terutama untuk memperbarui semangat.

Ketika kita tahu betapa rencana mampu memberikan kita semangat, maka hendaknya kita berkomitmen kuat untuk melaksanakannya. Salah satu cara yg dapat kita lakukan adalah menjadwalkannya.

Membuat jadwal mampu mempengaruhi psikologi kita untuk berkomitmen melaksanakannya. Beda jauh kekuatan komitmen tersebut manakala kita hanya mengucapkannya.

Ayah dan ibu, buatlah jadwal atas tiap rencana kegiatan keluarga dalam sebulan lantas tempelkan di ruang keluarga atau tempat lainnya yg bisa dilihat seluruh anggota keluarga. Tujuannya agar dapat saling mengingatkan.

Maka ketika kita telah menjadwalkan rencana, berarti kita telah merencanakan suatu semangat baru. Manakala kita benar-benar melaksanakannya, itu artinya kita telah memberikan semangat baru untuk kesuksesan tiap aktivitas kita.

Maka, menjadwalkan rencana sama artinya dengan menjadwalkan kesuksesan kita.

Ayah Ibu Bicaralah

Beberapa orang tua begitu dekat dg putra-putrinya. Mereka begitu asyik membahas dan menceritakan segala yg terjadi di sekolah maupun kantor.

Sepertinya hal yg disebutkan di atas adalah sebuah hal yg lumrah bagi suatu keluarga. Namun tidak semua keluarga mengalami keadaan seperti itu.

Penulis sendiri pernah memperhatikan, mengalami dan mempelajari perbedaan antara keluarga yg senang berbincang bercengkrama dg yg cenderung saling menutup diri, ternyata memberikan dampak kejiwaan yg berbeda pada tiap anggota keluarga.

Keterbukaan antara keluarga, khususnya anak dg orang tua sangat membantu perkembangan anak baik di sekolah, lingkungan kerja maupun kehidupan bermasyarakat.

Dampak paling sederhana dg ruang lingkup yg paling sempit adalah pengaruh kejiwaan yg diterima anak tersebut. Anak yg tertutup akan cenderung mudah marah dan memiliki tingkat kepedulian yg rendah terhadap sesama maupun lingkungan dibanding rekan lainnya.

Sifat pemarah anak ini disebabkan rasa kesalnya kepada orang tua yg kurang memperhatikannya, karena memang perhatian orang tua merupakan hal fitrah yg diperlukan oleh tiap orang pada usia berapapun. Oleh karenanya hendaklah tiap orang tua memperhatikan dan menempatkan komunikasi dg anak sebagai prioritas dalam rutinitas aktivitas keseharian mengingat besarnya manfaat yg diperoleh.

Maka... Wahai ayah dan ibu, waktu yg kau luangkan untuk anak-anakmu meski hanya seperempat jam di pagi atau sore hari sangatlah berarti meski kau hanya menanyakan "Bagaimana keadaanmu wahai anakku?"

Rapi, Kunci Keharmonisan Keluarga

Disadari atau tidak ternyata setiap orang memiliki beberapa persamaan tentang hal-hal yang disukai dan yang tidak disukai. Beberapa hal ini adalah hal yang bersifat fitrah bagi setiap manusia meskipun kita menyadari sepenuhnya adanya perbedaan karakter antara pribadi yang satu dengan lainnya. Untuk mencapai keharmonisan dalam keluarga, penting bagi kita mengetahui apa saja hal-hal yang secara fitrah disukai oleh orang lain dan apa saja yang tidak disukai orang lain, apakah ia suami, istri, anak-anak, saudara atau tetangga kita. Pada kesempatan kali ini akan kita bahas mengenai satu sikap yang secara fitrah setiap orang pasti menyukainya, yaitu rapi. 

Kerapian dalam rumah tangga dapat diwujudkan dalam bentuk sebagai berikut: 
1. Merapikan peralatan masak yang telah selesai digunakan.
2. Mencuci piring dan alat makan yang kotor. 
3. Meletakkan sepatu dan sandal pada rak. 
4. Merapikan buku dan alat tulis ketika telah selesai belajar. 
5. Meletakkan pakaian yang besih namun belum diseterika pada ranjang tersendiri. 
6. Dan sebagainya. 

Beberapa keuntungan menerapkan kerapian dalam rumah tangga adalah: 
1. Pikiran menjadi lebih tenang sehingga dapat bersikap lebih santun dalam berinteraksi dengan anggota keluarga yang lain. 
2. Lebih mudah dalam mencari barang yang diinginkan, karena setiap barang selalu berada pada tempatnya. 
3. Kerapian membiasakan kita teratur dan terkontrol dalam segala hal, baik dalam hal sikap yang selalu terkendali maupun dalam hal waktu yang selalu terjadwal. 
4. Membuat hati tiap anggota keluarga senang, karena keadaan rumah selalu rapi, bersih, dan bebas dari kotoran. 

Beberapa kerugian tidak menerapkan kerapian (ketidakteraturan) dalam rumah tangga adalah: 
1. Menyebabkan rasa sumpek, karena memang fitrah tiap manusia menginginkan keadaan yang rapi dan teratur. 
2. Meningkatkan emosi sehingga seringkali menyebabkan marah, perkataan dengan nada tinggi, serta sikap acuh tak acuh. 
3. Mengurangi sikap toleransi dan bahu membahu dalam keluarga. Hal ini disebabkan anggota keluarga yang satu mengandalkan keluarga lainnya untuk merapikan perabotan rumah, mencuci piring, merapikan sepatu dan sebagainya. 
4. Berkurangnya kemampuan berpikir secara tenang dan teratur. Hal ini mengakibatkan sikap yang tergesa-gesa sehingga salah dalam mengambil keputusan, serta tidak mampu mengatur waktu dengan sebaik-baiknya. 

Dari hal ini kita dapat melakukan penilaian sederhana bahwasannya seseorang yang seringkali terlambat dalam rutinitas kesehariannya bisa jadi ia adalah orang yang tidak rapi dalam mengatur segala sesuatu dalam rumah tangganya. Beberapa hal di atas semoga dapat menjadi cermin bagi diri kita untuk terus memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik serta kehidupan rumah tangga yang lebih berkualitas. Praktekkan apa yang bisa dikerjakan mulai saat ini meski dalam hal kecil dan sederhana, misalnya memasukkan kaos kaki ke dalam sepatu dan meletakkannya berjajar. Semoga bermanfaat.