Tampilkan postingan dengan label Akhlaq Muslim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Akhlaq Muslim. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

Jangan Marah…

Pembahasan berikut ini terkait "Marah". Saya tujukan untuk diri saya sendiri serta saudara muslim secara umum agar terhindar dari keburukan sifat Marah ini. Semoga Alloh menjaga kita sekalian dari keburukan sifat Marah ini. Selamat membaca dan semoga bermanfaat.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhuada seorang lelaki berkata kepada Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam“Berilah saya nasihat.”Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab,“Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”

Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan,“Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)

Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosulullohshollallohu ‘alaihi wa sallam dan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin rohimahulloh juga mengatakan, “Bukanlah maksud beliau adalah melarang memiliki rasa marah. Karena rasa marah itu bagian dari tabi’at manusia yang pasti ada. Akan tetapi maksudnya ialah kuasailah dirimu ketika muncul rasa marah. Supaya kemarahanmu itu tidak menimbulkan dampak yang tidak baik. Sesungguhnya kemarahan adalah bara api yang dilemparkan oleh syaithan ke dalam lubuk hati bani Adam. Oleh sebab itulah anda bisa melihat kalau orang sedang marah maka kedua matanya pun menjadi merah dan urat lehernya menonjol dan menegang. Bahkan terkadang rambutnya ikut rontok dan berjatuhan akibat luapan marah. Dan berbagai hal lain yang tidak terpuji timbul di belakangnya. Sehingga terkadang pelakunya merasa sangat menyesal atas perbuatan yang telah dia lakukan.”

Tips Menanggulangi Kemarahan
Syaikh Wahiid Baali hafizhohulloh menyebutkan beberapa tips untuk menanggulangi marah. Diantaranya ialah:
1.      Membaca ta’awudz yaitu, “A’udzubillahi minasy syaithanir rajiim”.
2.      Mengingat besarnya pahala orang yang bisa menahan luapan marahnya.
3.      Mengambil sikap diam, tidak berbicara.
4.      Duduk atau berbaring.
5.      Memikirkan betapa jelek penampilannya apabila sedang dalam keadaan marah.
6.      Mengingat agungnya balasan bagi orang yang mau memaafkan kesalahan orang yang bodoh.
7.      Meninggalkan berbagai bentuk celaan, makian, tuduhan, laknat dan cercaan karena itu semua termasuk perangai orang-orang bodoh.

Syaikh As Sa’di rohimahulloh mengatakan, “Sebaik-baik orang ialah yang keinginannya tunduk mengikuti ajaran Rasul shollallohu ‘alaihi wa sallam, yang menjadikan murka dan pembelaannya dilakukan demi mempertahankan kebenaran dari rongrongan kebatilan. Sedangkan sejelek-jelek orang ialah yang suka melampiaskan hawa nafsu dan kemarahannya. Laa haula wa laa quwwata illa billaah” (lihat Durrah Salafiyah).

Sumber: Buletin At-Tauhid
Penulis: Abu Mushlih Ari Wahyudi

Artikel www.muslim.or.id

Minggu, 16 Juni 2013

Akhlak Mulia pada Istri Tercinta

Alhamdulillahi wahdah, wash shalatu wassalamu ‘ala rasulillah…

Prolog
Masya Allah, akhlak pak anu bagus banget lho!” kata seorang bapak-bapak ‘mempromosikan’ rekan kerjanya.
“Buktinya apa pak?” tanya lawan bicaranya.
“Kalau di kantor ia ramah banget, apalagi kalo sedang berhadapan dengan bosnya!” jawabnya.
Wuih, bu anu akhlaknya baik banget!” komentar seorang ibu-ibu tatkala membicarakan salah satu tetangganya.
“Darimana ibu tau?” tanya temannya.
“Itu lho jeng, kalau di arisan RT, dia tuh ramah banget!” sahutnya.
Begitulah kira-kira cara kebanyakan kita menilai mulia-tidaknya akhlak seseorang. Sebenarnya, pola penilaian seperti itu tidaklah mutlak keliru. Hanya saja kurang jeli. Sebab, sangat memungkinkan sekali seseorang itu memiliki dua akhlak yang diterapkannya pada dua kesempatan yang berbeda. Berakhlak mulia di satu tempat, tetapi tidak demikian di tempat yang lain. Itu tergantung kepentingannya.
Lantas, bagaimanakah Islam membuat barometer penilaian kemuliaan akhlak seorang itu? Tulisan berikut berusaha sedikit mengupas permasalahan tersebut.

Islam Agama Akhlak
Di antara tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain untuk menegakkan tauhid di muka bumi, adalah dalam rangka menyempurnakan akhlak umat manusia. Sebagaimana dijelaskan dengan gamblang dalam sabda beliau,
“بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلاَقِ”
“Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (H.R. Al-Hakim dan dinilai sahih oleh beliau, adz-Dzahabi dan al-Albani).
Sedemikian besar perhatiannya terhadap perealisasian akhlak, Islam tidak hanya menjelaskan hal ini secara global, namun juga menerangkannya secara terperinci. Bagaimanakah akhlak seorang muslim kepada Rabb-nya, keluarganya, tetangganya, bahkan kepada hewan dan tetumbuhan sekalipun!
Di antara hal yang tidak terlepas dari sorotannya ialah penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Yakni, kapankah seseorang itu berhak dinilai memiliki akhlak mulia. Atau dengan kata lain: sisi apakah yang bisa dijadikan ‘jaminan’ bahwa seseorang itu akan berakhlak mulia pada seluruh sisi kehidupannya apabila ia telah berakhlak mulia pada sisi yang satu itu?

Barometer Akhlak Mulia
Panutan kita Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan permasalahan di atas dalam sabdanya,
“خَيْرُكُمْ خَيْرُكُمْ لِأَهْلِهِ وَأَنَا خَيْرُكُمْ لِأَهْلِي”
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik terhadap keluarganya. Dan akulah yang paling baik di antara kalian dalam bermuamalah dengan keluargaku.” (H.R. Tirmidzi dan beliau mengomentari bahwa hadits ini hasan gharib sahih. Ibnu Hibban dan al-Albani menilai hadits tersebut sahih).
Hadits di atas terdiri dari dua bagian. Pertama, penjelasan tentang barometer akhlak mulia. Kedua, tentang siapakah yang pantas dijadikan panutan dalam hal tersebut.
Dalam kaitan dengan hal di atas, penulis berusaha sedikit mengupas dua bagian tersebut di atas semampunya:

Pertama: Mengapa berakhlak mulia kepada keluarga, terutama terhadap istri dan anak-anak, dijadikan barometer kemuliaan akhlak seseorang?
Sekurang-kurangnya, wallahu a’lam, ada dua hikmah di balik peletakan barometer tersebut [disarikan dari kitab al-Mau'izhah al-Hasanah fi al-Akhlâq al-Hasanah, karya Syaikh Abdul Malik Ramadhâni (hal. 77-79)]:

a.       Sebagian besar waktu yang dimiliki seseorang dihabiskan di dalam rumahnya bersama istri dan anak-anaknya. Andaikata seseorang itu bisa bersandiwara dengan berakhlak mulia di tempat kerjanya –yang itu hanya memakan waktu beberapa jam saja- belum tentu ia bisa bertahan untuk terus melakukannya di rumahnya sendiri. Dikarenakan faktor panjangnya waktu yang dibutuhkan untuk ‘bersandiwara’. Justru yang terjadi, saat-saat itulah terlihat akhlak aslinya.
Ketika bersandiwara, bisa saja dia membuat mukanya manis, tutur katanya lembut dan suaranya halus. Namun, jika itu bukanlah watak aslinya, dia akan sangat tersiksa dengan akhlak palsunya itu jika harus dipertahankan sepanjang harinya.
Kebalikannya, seseorang yang memang pembawaan di rumahnya berakhlak mulia, insya Allah secara otomatis ia akan mempraktekkannya di manapun berada.

b.      Di tempat kerja, ia hanyalah berposisi sebagai bawahan, yang notabenenya adalah lemah. Sebaliknya, ketika di rumah ia berada di posisi yang kuat; karena menjadi kepala rumah tangga. Perbedaan posisi tersebut tentunya sedikit-banyaknya berimbas pula pada sikapnya di dua alam yang berbeda itu.
Ketika di kantor, ia musti menjaga ‘rapor’nya di mata atasan. Hal mana yang membuatnya harus berusaha melakukan apapun demi meraih tujuannya itu. Meskipun untuk itu ia harus memoles akhlaknya untuk sementara waktu. Itu tidaklah masalah. Yang penting karirnya bisa terus menanjak dan gajinya pun bisa ikut melonjak.
Adapun di rumah, di saat posisinya kuat, dia akan melakukan apapun seenaknya sendiri, tanpa merasa khawatir akan dipotong gajinya ataupun dipecat.
Demikian itulah kondisi orang yang berakhlak mulia karena kepentingan duniawi. Lalu, bagaimanakah halnya dengan orang yang berakhlak mulia karena Allah? Ya, dia akan terus berusaha merealisasikannya dalam situasi dan kondisi apapun, serta di manapun ia berada. Sebab ia merasa selalu di bawah pengawasan Dzat Yang Maha melihat dan Maha mengetahui.

Kedua: Beberapa potret kemuliaan akhlak Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap keluarganya.
Sebagai teladan umat, amatlah wajar jika praktik keseharian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam bergaul dengan keluarganya kita pelajari. Dan tentu saja lautan kemuliaan akhlak beliau terhadap keluarganya tidak bisa dikupas dalam lembaran-lembaran tipis ini. Oleh karena itu, di sini kita hanya akan menyampaikan beberapa contoh saja. Hal itu hanya sekadar untuk memberikan gambaran akan permasalahan ini.

  • Turut membantu urusan ‘belakang’.
Secara hukum asal, urusan dapur dan tetek bengek-nya memang merupakan kewajiban istri. Namun, meskipun demikian, hal ini tidak menghalangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk ikut turun tangan membantu pekerjaan para istrinya. Dan ini tidak terjadi melainkan karena sedemikian tingginya kemuliaan akhlak yang beliau miliki.
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ  صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ”
Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).
Subhanallah! Di tengah kesibukannya yang luar biasa padat berdakwah, menjaga stabilitas keamanan negara, berjihad, mengurusi ekonomi umat dan lain-lain, beliau masih bisa menyempatkan diri mengerjakan hal-hal yang dipandang rendah oleh banyak suami di zaman ini! Andaikan saja para suami-suami itu mau mempraktekkan hal-hal tersebut, insyaAllah keharmonisan rumah tangga mereka akan langgeng.

  • Berpenampilan prima di hadapan istri dan keluarga.
Berikut Aisyah, salah satu istri Rasul shallallahu ‘alahi wa sallam menyampaikan pengamatannya;
“أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ”
“Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam jika masuk ke rumahnya, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak.” (H.R. Muslim).
Bersiwak ketika pertama kali masuk rumah??! Suatu hal yang mungkin tidak pernah terbetik di benak kita. Tetapi, begitulah cara Nabi kita shallallahu ‘alahi wa sallam menjaga penampilannya di hadapan istri dan putra beliau. Ini hanya salah satunya lho! Dan beginilah salah satu potret kemuliaan akhlak Rasulullah kepada keluarganya.

  • Tidak bosan untuk terus menasehati istri dan keluarga.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengingatkan,
“أَلاَ وَاسْتَوْصُوْا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا”
Ingatlah, hendaknya kalian berwasiat yang baik kepada para istri.” (H.R. Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh Syaikh al-Albani).
Timbulnya riak-riak dalam kehidupan rumah tangga merupakan suatu hal yang lumrah. Namun, jika hal itu sampai mengotori keharmonisan jalinan kasih sayang antara suami dan istri, atau bahkan menghancurkan bahtera pernikahan, tentulah sangat berbahaya. Agar mimpi buruk itu tidaklah terjadi, seyogyanya ditumbuhkan budaya saling memahami dan kebiasaan saling menasehati antara suami dan istri.
Daripada itu, benih-benih kesalahan yang ada dalam diri pasangan suami-istri hendaknya tidaklah didiamkan begitu saja hanya karena dalih menjaga keharmonisan rumah tangga. Justru sebaliknya, kesalahan-kesalahan itu harus segera diluruskan. Dan tentunya hal itu harus dilakukan dengan cara yang elegan: tutur kata yang lembut, raut muka yang manis dan metode yang tidak menyakiti hati pasangannya.

Epilog
Semoga tulisan sederhana ini bisa dijadikan sebagai salah satu sarana instrospeksi diri –terutama bagi mereka yang menjadi panutan orang banyak, seperti: da’i, guru, ustadz, pejabat dan yang semisalnya- untuk terus berusaha meningkatkan kualitas muamalah para panutan itu terhadap keluarga mereka masing-masing. Jika sudah demikian, berarti mereka telah betul-betul berhasil menjadi qudwah luar maupun dalam. Wallahu a’la wa a’lam.
Kedungwuluh Purbalingga, 7 Rabi’ul Awal 1431 / 21 Februari 2010

Minggu, 12 Mei 2013

Hak Bertetangga

Diantara bukti bahwa islam adalah agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam, Islam mengajarkan kepada umat manusia untuk berbuat baik kepada sesama, terutama kepada orang yang memiliki hubungan dekat dengan kita. Diantaranya tetangga. Hubungan tetangga menjadi penting, karena tetangga memiliki hak yang lebih dibandingkan lainnya. Tidak heran jika ada beberapa ulama yang menulis buku khusus membahas tentang tetangga, seperti Imam Al-Humaidi (w. 219 H) dan Abu Nuaim Al-Asbahani (w. 430 H), yang menulis satu kumpulan hadis khusus tentang tetangga, kemudian Ad-Dzahabi (w. 748 H), beliau memiliki buku khusus berjudul Haqqul Jiwar (Hak bertetangga), dan buku ini sudah diterbitkan. 

Hak bertetangga dalam Al-Quran
Allah berpesan dalam Al-Quran (yang artinya), ”Beribadahlah kepada Allah dan jangan menyekutukannya dengan sesuatu apapun, dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak yatim, orang miskin, tetangga dekat, tetangga jauh, rekan di perjalanan, Ibnu Sabil, dan kepada budak yang kalian miliki. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan apa yang dia miliki” (QS. An-Nisa : 36).

Imam Al-Qurthubi mengatakan, “Oleh karena itu, bersikap baik kepada tetangga adalah satu hal yang diperintahkan dan ditekankan, baik dia muslim maupun kafir, dan itulah pendapat yang benar” (Tafsir Al-Qurthubi, 5/184)

Cakupan Kata Tetangga
Al-Hafizh Ibnu Hajar mengatakan, “Kata tetangga mencakup muslim maupun kafir, ahli ibadah maupun ahli maksiat, teman dekat maupun musuh, pendatang maupun penduduk asli, yang suka membantu maupun yang suka merepotkan, yang dekat maupun yang jauh, yang rumahnya berhadapan maupun yang yang bersingkuran… Dan masing-masing disikapi dengan baik sesuai keadaannya” (Fat-hul Baari, 10/441). 

Batasan Jumlah Tetangga
Ulama berbeda pendapat tentang batasan tetangga.
Pertama, semua orang yang tinggal satu kampung bersamanya.
Pendapat ini berdalil dengan firman Allah di surat Al-Ahzab (yang artinya), “Jika orang-orang munafik, orang- orang yang berpenyakit dalam hatinya dan orang-orang yang menyebarkan kabar bohong di Madinah (dari menyakitimu) tidak menghentikan aksinya, niscaya Kami perintahkan kamu (untuk memerangi) mereka, kemudian mereka tidak menjadi tetanggamu (di Madinah) melainkan dalam waktu yang sebentar” (QS. Al-Ahzab: 60).
Pada ayat ini Allah menyebut semua penghuni Madinah sebagai tetangga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kedua, semua orang yang menempati 40 rumah dari semua penjuru arah.
Al-Hafizh Ibnu Hajar membawakan keterangan dari ’Aisyah, batasan tetangga adalah 40 rumah dari segala penjuru, demikian pula pendapat dari Al-Auza’i. Ibnu Hajar juga membawakan riwayat lain, ”Diriwayatkan oleh Ibnu Wahb, dari Yunus, dari Ibnu Syihab, “Tetangga adalah 40 rumah, ke kanan, kiri, belakang dan depan. (Fat-hul Baari, 10/447).

Hadits-hadits tentang bertetangga
1. Larangan keras mengganggu tetangga
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak akan masuk surga, orang yang tetangganya tidak merasa aman dari gangguannya” (HR. Bukhari 6016 & Muslim 46).

2. Wasiat Jibril untuk memperhatikan tetangga
Dari A’isyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menuturkan, “Jibril selalu berpesan kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai aku mengira tetangga akan ditetapkan menjadi ahli warisnya” (HR. Bukhari 6014 & Muslim 2624).

3. Menumbuhkan semangat berbagi dengan tetangga
Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Sesungguhnya kekasihku (Rasulullah), mewasiatkan kepadaku,”Apabila kamu memasak, perbanyaklah kuahnya. Kemudian perhatian penghuni rumah tetanggamu, dan berikan sebagian masakan itu kepada mereka dengan baik” (HR. Muslim)

4. Tidak mengganggu tetangga bagian dari iman
Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia mengganggu saudaranya” (HR. Bukhari 5185 & Muslim 47)

5. Menyakiti tetangga lebih besar dosanya
Dari Miqdad bin Aswad radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Seseorang yang berzina dengan 10 wanita, dosanya lebih ringan dibandingkan dia berzina dengan satu orang istri tetangganya… seseorang yang mencuri 10 rumah, dosanya lebih ringan dibandingkan dia mencuri satu rumah tetangganya” (HR. Ahmad 23854 dan dinyatakan Syu’aib Al-Arnauth sanadnya bagus)

masih ada beberapa hadits lagi terkait hubungan dengan tetangga.. selengkapnya kunjungi link berikut ini ya.. http://buletin.muslim.or.id/akhlaq/hak-bertetangga

Minggu, 05 Mei 2013

Read

Bismillah...

Politely-spoken, polite, attentive, thoughtful and insightful. At least that he was minded to position entailed. Typical of many people who I've met, it turns out the majority of people who are often insightful and full of wisdom like reading a book.

I also feel the effects of which are so great on my personality when I continue reading the book. Reading will add insight to broaden our perspective of a thing. In effect, we are able to think and solve problems with more calm and unhurried take decisions because we already know the good and bad effects on every decision that we take.

So many benefits of reading, but it certainly can not be obtained by any reading. Read the book that it's useful any kind and certainly the book that the content does not violate the norms of law. It was like water, when he was given a prayer and remarks that both the per molecule will be beautiful and good so beneficial to the drinker.

Conversely, when water is mentioned him a bad word, it also looks bad molecules and adversely affect the drinker.

So read and be prepared to be one who is getting wise and beneficial to others. :-)

Jumat, 24 Agustus 2012

Waktu Emas di Atas Kendaraan

Menjadi seorang tahfidz/penghafal Al Quran adalah dambaan tiap muslim. Bagaimana tidak, ia menjadi penjaga Al Quran yang merupakan pedoman hidup mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Menjadi seorang tahfidz tidaklah melulu harus masuk pondok tahfidz terlebih dahulu. Kita sebagai orang di luar pondok tetap bisa berlomba dengan para santri di pondok.

Berikut adalah pengalaman pribadi saya dalam berusaha menghafal serta mengulang hafalan Al Quran. Hal yang menurut saya unik adalah saya memanfaatkan waktu selama di atas sepeda motor untuk menghafal Al Quran. Sejak dari berangkat hingga tiba di tempat tujuan.

Secara lebih spesifik, berikut adalah kiat-kiat agar perjalanan kita di atas kendaraan lebih bermakna dengan hafalan Al Quran kita:
  1. Tentukan pada malam hari surat/ayat apa yang ingin kita hafal/murojaah.
  2. Baca beberapa kali hingga terpatri dalam ingatan.
  3. Jika menghafal ayat baru, jangan terlalu banyak, sesuaikan dengan kemampuan sehingga ketika di atas kendaraan semua ayat dapat diulang-ulangi tanpa ada ayat yang terlewat. Misalnya hafalkan maksimal 3 ayat saja.
  4. Jika murojaah, baca dahulu keseluruhan ayat/surat di malam hari. Lantas ulangi terus-menerus selama perjalanan.
  5. Ingat! baca ta'awudz sebelum membaca Al Quran dan usahakan berangkat dalam keadaan berwudhu.
  6. Berangkatlah lebih awal agar hati lebih siap dan tenang.
  7. Jangan ngebut meski kita sudah berangkat lebih awal. Karena ngebut menjadikan hati tidak tenang dan merusak konsentrasi hafalan kita.
  8. Santunlah selama dalam perjalanan. Hormati pengendara lainnya dan taati peraturan lalu lintas. Karena menghafal Al Quran adalah kebaikan, maka selama menghafalnya proses dan tingkah laku kita pun juga harus baik.
  9. Sabar dan tekun. Ulang-ulangi terus sampai tiba di tempat tujuan.
  10. Gunakan helm yang berkaca dan selalu tutup kaca helm agar kotoran tidak menempel di mata dan debu tidak terhirup. Tujuannya agar semua kotoran tersebut tidak merusak konsentrasi kita.
Terkadang kita merasa waktu di atas kendaraan terlalu pendek sehingga kita menunda untuk menghafal Al Quran. Meski hanya 30 menit, tentunya itu lebih baik daripada hanya diam mlongo  atau bahkan mendengarkan musik-musik yang hakikatnya adalah nyanyian setan.

Ingat saudaraku, tidak ada kebaikan melainkan ada balasannya. So, meski hanya sekejap di atas kendaraan, semoga bisa menjadi waktu emas yang penuh keberkahan. Tiada lain adalah karena kesungguhan kita menjaga kalamulloh yang mulia ini.

Selamat berkendara dan selamat menghafal Al Quran. :)

Rabu, 22 Agustus 2012

Membacalah

Gaya bicaranya sopan, santun, penuh perhatian, bijaksana serta berwawasan. Setidaknya berwawasan untuk jabatan yg ia emban. Dari banyak tipikal orang yg kutemui, ternyata sebagian besar orang yg berwawasan dan penuh kebijaksanaan seringkali gemar membaca buku. 

Saya sendiripun merasakan efek yg begitu hebat pada kepribadian saya manakala saya terus membaca buku. Membaca akan menambah wawasan sehingga memperluas cara pandang kita terhadap suatu hal. Dampaknya, kita mampu berpikir dan memecahkan masalah dg lebih tenang dan tidak tergesa-gesa mengambil keputusan dikarenakan kita telah mengetahui efek baik dan buruknya atas tiap keputusan yg kita ambil. 

Begitu banyak manfaat membaca, namun tentunya tidak bisa diperoleh dg sembarang membaca. Bacalah buku yg bermanfaat apapun itu jenisnya dan tentunya buku yg isinya tidak melanggar norma-norma syariat. Ibaratnya air, manakala ia diberikan doa dan ucapan yg baik maka tiap molekulnya akan menjadi indah dan baik sehingga bermanfaat bagi peminumnya. Sebaliknya, manakala air disebutkan padanya perkataan yg buruk, maka molekulnya pun tampak buruk dan memberikan dampak negatif bagi pemimumnya. 

Maka membacalah dan bersiaplah menjadi orang yg semakin bijak dan bermanfaat bagi sesama. :-)

Selasa, 16 Maret 2010

Teman Duduk

Ketika teman-teman seumuran mereka saat itu tengah bersenda gurau menikmati makanan dan minuman ringan di tenda-tenda makanan yang berjajar di sepanjang jalan S. Supriadi untuk menghabiskan malam minggu, ia dan beberapa teman yang lain tengah duduk berhalaqah di sebuah masjid membicarakan tema-tema keislaman dari sebuah buku.
Jumlah mereka tidaklah lebih dari lima belas anak. Empat atau lima di antara mereka adalah perempuan, sedangkan sisanya adalah laki-laki. Di antara keduanya dipisahkan selembar kain tabir berwarna hijau gelap.
Begitu heningnya suasana masjid saat itu. Hanya suara dari sang pemateri yang terdengar lantang. Sesekali ada di antara peserta yang memotong pembicaraan untuk sekedar bertanya. Begitu hening.... sobat sekalian bisa membayangkan sendiri bagaimana keadaan sebuah masjid seusai shalat isya’!
Sekarang coba sobat muda pikirkan.... Bagaimana mereka dapat tahan dengan suasana yang sangat hening dan condong kepada kegiatan yang membosankan?! Mereka dapat bertahan di dalamnya, sedangkan teman-teman seusianya sedang menikmati malam panjang dengan musik-musik yang ’menghibur hati’?!
Bagaimana mereka dapat bersabar, hanya duduk mendengarkan petuah-petuah dan kisah-kisah generasi awal dan terbaik dalam sejarah islam...?! padahal teman-teman seusia mereka minimal tengah berleha di atas sofa mendengar dan melihat kisah-kisah sandiwara berselimut noda dari televisi.
Bagaimana mereka dapat rajin menghadirinya, padahal tidak hanya sekali atau dua kali... Melainkan setiap malam minggu. Dan malam ini adalah malam yang menginjak satu setengah tahun kegiatan tersebut.
Siapakah mereka wahai sobat? Merekalah para pemuda dan pemudi yang hati mereka senantiasa tertambat di masjid. Mereka dengan semangat datang semata-mata untuk menjaga dan mempertahankan apa yang telah mereka yakini dari ajaran generasi awal nan terbaik dari umat manusia.
Merekalah pemuda yang memperhatikan kebaikan perilaku dan keikhlasan hati, tentunya perilaku yang baik menurut Islam dan keikhlasan yang benar pula menurutnya, meski dengan seperti itu banyak orang menganggap mereka pemuda yang aneh dan berlebihan dalam beragama.
”Saya rasa jadi remaja itu yang biasa-biasa saja, bebas berkreasi dan tidak perlu terbatasi dengan keadaan seperti itu. Pake jilbab, pake gamis, baju koko.... Itu semua berlebihan. Dan bahkan itu dapat mengganggu psikologinya karena yang mereka lakukan itu tidak sesuai dengan keadaan remaja kebanyakan....” Salah satu komentar seorang bapak terhadap pemuda pemudi tersebut.
Itulah sebagian kecil dari teman-teman kita sobat, yang mana mereka telah diberikan taufiq oleh Allah sehingga mereka dapat berkumpul di masjid untuk sekedar berdiskusi atau hanya mendengar materi yang disajikan.
Semoga kita mampu meneladani mereka, dan penulis berharap Allah memperbanyak jumlah mereka. Memperbanyak jumlah mereka di akhir zaman ini, sehingga mereka mampu hadir di tengah masyarakat yang kebanyakan dari mereka telah menjauh dari Ad-dien yang mulia ini. Menjadikan para pemuda itu laksana lentera di tengah gelap gulitanya malam, serta menjadi air yang mampu melepas dahaga para musafir di sebuah hamparan padang pasir yang gersang. Amiin.

Itsar - Muslim Bukan Individualis

Muslim Bukan Individualis

Oleh: Herdian Rangga Permana

Muqaddimah
Kehidupan bermasyarakat adalah sesuatu yang mutlak dan bersifat fitrah. Antara satu orang dengan lainnya saling membutuhkan dan memenuhi. Akan tetapi, seringkali kita temukan persinggungan dan jarak yang tercipta antara satu orang dengan lainnya dikarenakan adanya perbedaan cara pandang dan langkah dalam menyikapi suatu permasalahan. Dan di antara sebab munculnya perselisihan dalam kehidupan bermasyarakat adalah akhlaq yang buruk.
Banyak orang mempelajari teori-teori tentang norma, etika dan kesopanan dari literatur barat. Padahal Islam telah mengajarkannya dengan begitu lengkap, hanya saja mereka kurang konsen dalam mempelajari Islam. Sehingga yang dikenal dari Islam hanyalah ibadah, fiqh, dan muamalah.

I-tsar (biar tidak keliru itsar), Apakah Itu?
I-tsar adalah Anda mengutamakan saudara muslim lainnya daripada diri sendiri. Memberikan apa yang kita miliki dari harta, atau sikap dan tingkah laku dengan pemberian yang terbaik. Sehingga kita merasakan kebahagiaan dari senyuman orang lain, namun kita sendiri tidak dapat menikmatinya.

Sebuah Teladan Tentang I-tsar
Ketika Kota Mekah, Khaibar dan Thaif dikuasai kaum muslimin, diperoleh ghanimah yang melimpah ruah. Di antara ghanimah itu adalah sekelompok kambing yang berada di antara dua gunung.
Salah seorang arab badui melihat kumpulan kambing itu. Dia merasa suka terhadapnya. Rasulullah yang mengetahui kecintaan arab badui itu kepada kambing-kambing tersebut, lantas memperuntukkan seluruh kambing tersebut kepada arab badui itu.
Lihatlah wahai sobat, di tengah kemiskinan yang menimpa sebagian besar kaum muslimin di Mekah saat itu, termasuk di antara mereka adalah Rasulullah, Beliau tidak memikirkan dirinya sendiri. Bahkan Rasulullah pernah pula mengikat batu di perut lantaran kelaparan. Meskipun jika kambing-kambing itu diperuntukkkan kepada Rasulullah, bukanlah hal yang berlebihan karena Beliau pun saat itu dalam keadaan yang sangat miskin. Di sisi yang lain, Rasulullah pun memiliki kekuasaan untuk mengatur pembagian ghanimah.
Bagaimana kiranya jika hal yang terjadi pada Rasulullah itu menimpa kita?

Tujuan Bersikap I-tsar
I-tsar bertujuan untuk menggapai keridhaan Allah di atas keridhaan manusia. Ridha Allah di atas ridha selainnya. Ridha Allah di atas hawa nafsu.

Tingkatan I-tsar
Berikut adalah tingkatan-tingkatan itsar, di tingkat manakah kita?
1. Menempatkan orang lain seperti seorang pelayan. Kita memberikan sisa-sisa barang yang kita miliki kepadanya.
2. Menempatkan orang lain seperti diri kita sendiri. Apa yang kita ambil, itulah yang kita berikan kepada orang lain.
3. Menempatkan orang lain di atas diri kita. Kita memberikan yang terbaik yang kita miliki kepada orang lain.

Buah-Buah I-tsar
Berikut adalah hasil yang akan kita peroleh manakala kita melakukan i-tsar dengan baik dan benar.
1. I-tsar sebagai penghias akhlaq dan meningkatkan derajat seorang hamba.
2. Memberikan keberkahan dalam hidup.
3. Menjadikan hati pemurah.
4. Terhindar dari sifat iri, dengki, benci dan a-tsarah (kebalikan dari sifat i-tsar, yaitu egois)
5. Menciptakan hubungan persaudaraan yang kuat serta menimbulkan kecintaan di antara kaum muslimin.
6. Membuka pintu-pintu hidayah.

Berilmu Sebelum Beramal
Tentang i-tsar, kiranya dengan ulasan ringkas ini sobat sekalian dapat mengenal apa dan siapa i-tsar itu. Salah satu akhlaq mulia yang sekali-kali tidak kalian dapatkan dalam teori-teori norma dan etika ala barat. Apalagi kalian temukan dalam praktek keseharian orang-orang barat yang senantiasa mengikuti akal pikiran dan hawa nafsu.
Dengan bekal ilmu yang sedikit ini, tunggu apa lagi? Ayo segera amalkan! Sesungguhnya Allah tidak akan menyiakan amal ibadah hambanya sedikit dan sekecil apapun.

Praktek I-tsar
Dalam pelaksanaanya, i-tsar akan lebih mudah kita lakukan jika kita memiliki kepekaan rasa.
Kepekaan rasa terhadap apa yang dirasakan dan dialami orang lain. Dengan adanya kepekaan rasa, kita mampu memberikan sikap yang terbaik kepada orang lain meskipun itu kecil dan sederhana. Karena i-tsar itu tidaklah harus dengan harta. Cukuplah dengan sikap dan perhatian kita, minimal dapat meringankan beban hidupnya.
Di sisi yang lain, i-tsar berupa perhatian kepada orang lain, akan menumbuhkan kecintaan yang erat. Cinta yang tumbuh dan senantiasa terpupuk dalam naungan syariat yang Islam yang mulia.


Sumber: Muslim Bukan Individualis, penerbit: Aqwam, judul asli: Ash-Shobru wadz-Dzauq, karya: Amru Khalid.
Disampaikan dalam Disbuk (Diskusi Buku) Masjid Manarul Islam Sawojajar Malang, 06 Februari 2010.

Minggu, 21 Februari 2010

Mengucapkan Salam Hanya Kepada Yang Dikenal Saja

Sore itu sekitar pukul 17.45, lebih kurang sepuluh menit lagi adzan maghrib akan berkumandang. Saya segera mengayuh sepeda ontel menuju masjid yang jaraknya dari rumah sekitar 600 meter. Di tengah perjalanan, saya disalip- dengan akhiran p, bukan b, yang merupakan bahasa jawa yang berarti didahului- oleh seorang jama'ah masjid.

Saya mengetahui dan hafal benar bahwasannya beliau adalah jama'ah masjid tempat biasa saya shalat. Memang saya tidak tahu namanya, namun saya yakin bahwa saya mengenalnya dari perawakan fisiknya dan sebaliknya, beliau juga mengetahui bahwasannya saya adalah pemuda yang biasa shalat berjama'ah di masjid tersebut. Terlebih lagi di kajian kemarin minggu kami duduk bersebelahan.

Namun... sepeda motor beliau berlalu begitu saja... padahal saya yakin bahwasannya beliau mengetahui bahwa yang sedang mengayuh sepeda itu adalah saya. Yang saya sayangkan... tidak ada sapaan hangat berupa ucapan Assalamu'alaikum keluar dari lisannya. Yah, setidaknya ada sapaan "Mas... duluan ya...".

Begitulah fenomena yang terjadi saat ini. Banyak diantara umat muslim yang enggan mengucapkan salam kepada muslim yang lainnya. Mereka hanya mengucapkan salam kepada yang dikenal saja, kepada yang tahu namanya saja. Tidak kepada yang lainnya. Nah, bagaimana syariat Islam memandang permasalahan ini? Mari kita ikuti pembahasan berikut ini. Selamat membaca.

-----

Diantara telah dekatnya hari kiamat ialah akan adanya orang-orang yang hanya mau mengucapkan salam kepada orang yang dikenalnya saja.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Mas'ud radhiyallahu anhu, ia berkata. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Sesungguhnya di antara tanda-tanda telah dekatnya hari kiamat ialah manusia tidak mau mengucapkan salam kepada orang lain kecuali yang dikenalnya saja".[Hadits Riwayat Ahmad. Musnad Ahmad 5:326. Ahmad Syakir berkata 'Isnadnya Shahih'].

Dalam riwayat lain bagi Imam Ahmad dengan lafal:
"Artinya : Sesungguhnya sebelum datangnya hari kiamat pengucapan salam itu hanya untuk orang-orang tertentu saja (yakni yang dikenalnya)". [Musnad Ahmad 5:333. Ahmad Syakir berkata, 'Isnadnya Shahih'. Al-Albani berkata : 'Ini adalah isnad yang shahih menurut syarat Muslim'. Silsilatul Ahaditsish Shahih 2:251. hadits nomor 647].

Kondisi seperti ini dapat kita saksikan pada masa sekarang ini, maka banyak orang yang hanya mau mengucapkan salam kepada orang-orang yang dikenalnya saja. Perilaku seperti ini bertentangan dengan sunnah, karena Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menganjurkan menyebarkan salam kepada orang yang Anda kenal maupun yang Anda tidak kenal.

Karena hal inilah yang menjadi penyebab tersebarnya rasa kasih sayang dan saling mencintai di antara sesama kaum muslimin. Juga sebagai pemupuk keimanan yang menjadi faktor penentu untuk dapat masuk surga, sebagaimana yang diriwayatkan dalam sebuah hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, bahwasannya Rasulullah Shalallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
"Artinya : Tidaklah kamu akan masuk surga sehingga kamu beriman, dan tidaklah kamu beriman sehingga kamu saling mencintai. Tidaklah kamu mau kutunjukkan kepada sesuatu yang apabila kamu lakukan kamu akan saling mencintai ? Yaitu sebarkanlah salam di antara kamu". [Hadits Riwayat Muslim. Shahih Muslim, Kitab Al-Iman, Bab Bayan Annahu Laa Yadkhulu Al-Jannata illa Al-Mu'minuun 2:35]

Ditulis oleh: Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil
Disalin dari buku Asyratus Sa'ah. Fasal Tanda-Tanda Kiamat Kecil oleh Yusuf bin Abdullah bin Yusuf Al-Wabil MA, edisi Indonesia Tanda-Tanda Hari Kiamat hal. 141-142 terbitan Pustaka Mantiq, penerjemah Drs As'ad Yasin dan Drs Zaini Munir Fadholi]

Kedudukan Wanita Dalam Kehidupan

Sesungguhnya wanita muslimah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi di dalam Islam dan pengaruh yang begitu besar di dalam kehidupan setiap Muslim. Dialah guru pertama madrasah kehidupan di dalam membangun masyarakat yang shalih jika ia berjalan sesuai dengan petunjuk Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Karena berpegang teguh kepada kedua sumber itu dapat menjauhkan setiap Muslim laki-laki dan wanita dari kesesatan di dalam segala sesuatu.

Di dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang menunjukkan betapa pentingnya kaum wanita sebagai ibu, sebagai istri, sebagai saudara dan sebagai anak. Mereka juga mempunyai hak-hak dan kewajiban-kewajiban, sedangkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berfungsi menjelaskan secara detail.

Urgensi atau pentingnya (peran wanita) itu tampak di dalam beban tanggung jawab yang harus diembannya dan perjuangan berat yang harus ia pikul yang pada sebagiannya melebihi beban tanggung jawab yang dipikul kaum pria. Maka dari itu, di antara kewajiban terpenting kita adalah berterima kasih kepada ibu, berbakti kepadanya dan mempergaulinya dengan baik. Dalam hal ini ia harus lebih diutamakan dari pada ayah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman artinya : “Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya, ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapakmu, hanya kepada Ku-lah kamu kembali.” [Luqman : 14]

Ada seorang lelaki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam seraya berkata : “Ya Rasulullah, siapa manusia yang lebih berhak untuk saya pergauli dengan baik ?” Jawab Nabi, ‘Ibumu’ Ia bertanya lagi, “Lalu siapa?” Jawab beliau, ‘Ibumu’, Ia bertanya lagi, “Lalu siapa lagi ?” Beliau jawab ‘Ayahmu’. [Diriwayatkan oleh Imam Bukhari]
Makna yang terkandung di dalam hadits ini adalah bahwa ibu harus mendapat 3x (tiga kali) lipat perbuatan baik (dari anaknya) dibandingkan bapak.

Kedudukan istri dan pengaruhnya terhadap jiwa laki-laki telah dijelaskan oleh ayat berikut ini artinya : “Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.” [Ar-Rum : 21]

Ibnu Katsir di dalam tafsirnya tentang mawadah wa rahmah mengatakan : Mawaddah adalah rasa cinta dan Rahmah adalah rasa kasih sayang, karena sesungguhnya seorang laki-laki hidup bersama istrinya adalah karena cinta kepadanya atau karena kasih dan sayang kepadanya, agar mendapat anak keturunan darinya.

Sesungguhnya ada pelajaran yang sangat berharga dari Khadijah Radhiyallahu anha dimana beliau mempunyai peranan yang sangat besar dalam menentramkan rasa takut yang dialami Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa sallam ketika Malaikat Jibril turun kepadanya dengan membawa wahyu di goa Hira’ untuk pertama kalinya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang kepada Khadijah dalam keadaan seluruh persendiannya gemetar, seraya bersabda artinya : “Selimuti aku! Selimuti aku! Sungguh aku mengkhawatirkan diriku.” Maka Khadijah berkata : “Tidak. Demi Allah, Allah tidak akan membuatmu menjadi hina sama sekali, karena engkau selalu menjalin hubungan silaturahmi, menanggung beban, memberikan bantuan kepada orang yang tak punya, memuliakan tamu dan memberikan pertolongan kepada orang yang berada di pihak yang benar.” [Muttafaq Alaih]

Kita juga tidak lupa peran Aisyah Radhiyallahu ‘anha dimana para tokoh sahabat Nabi banyak mengambil hadits-hadits dari beliau, dan begitu pula kaum wanita banyak belajar kepadanya tentang hukum-hukum yang berkaitan dengan mereka.

Tidak diragukan lagi bahwa ibu saya pun rahimahullah, mempunyai peran yang sangat besar dan pengaruh yang sangat dalam di dalam memberikan dorongan kepada saya untuk giat belajar (menuntut ilmu). Semoga Allah melipat gandakan pahalanya dan memberinya balasan yang terbaik atas jasanya kepada saya.

Dan hal yang tidak dapat dipungkiri adalah bahwa rumah tangga yang dihiasi dengan penuh rasa kasih sayang, rasa cinta, keramahan dan pendidikan yang Islami akan berpengaruh terhadap suami. Ia akan selalu beruntung, dengan izin Allah, di dalam segala urusannya, berhasil di dalam segala usaha yang dilakukannya, baik di dalam menuntut ilmu, perniagaan ataupun pertanian dan lain-lainnya.

Hanya kepada Allah jualah saya memohon agar membimbing kita semua ke jalan yang Dia cintai dan Dia ridhai. Shalawat dan salam atas Nabi Muhammad, keluarga dan para sahabatnya.

[Majmu Fatawa, jilid 3, halaman 348, oleh: Syaikh Abdul Aziz bin Baz]
[Disalin dari. Kitab Al-Fatawa Asy-Syar’iyyah Fi Al-Masa’il Al-Ashriyyah Min Fatawa Ulama Al-Balad Al-Haram, edisi Indonesia Fatwa-Fatwa Terkini, hal 421-424, Darul Haq]

Kearifan Penjual Kue Pukis

Seperti inilah jika shalat yang kita lakukan benar-benar dalam kondisi maksimal. Jika kaum laki-laki melaksanakan shalat berjama'ah tidak hanya sekedar untuk datang menampakkan diri atau sekedar sebagai penggugur kewajiban. Kisah teladan yang merupakan hasil ibadah yang benar. Selamat membaca.

Perlahan tangan kekar itu menuangkan adonan kue ke loyang kue yang beruas-ruas. Setelah rata dan semua ruas terisi, sebelah tangan lainnya mengambil penutup loyang dan meletakan di atasnya rapat-rapat. Beberapa menit kemudian, ia kembali membuka penutupnya dan mulai mengangkat satu persatu kue yang sudah masak dengan pengungkit kecil, satu, dua, tiga dan seterusnya seraya memindahkan kue-kue itu ke tempat khusus yang sudah disediakan.

Di sebelah lelaki itu, seorang perempuan anggun bersanding. Lihai gerak tangannya bermain dengan sebilah capit, seperti sudah terlatih bertahun-tahun menggunakan alat tersebut. Tangan kirinya memegang plastik transparan ukuran setengah kilogram, dengan capit di tangan kanannya ia memasukkan serta menyusun kue-kue ukuran kecil itu. Terakhir, kedua tangannya melipat dan merekatkan ujung plastik dengan stepler. Tumpukan kte pukis yang sudah tersusun rapih itu tinggal menunggu berpindah tangan kepada para pembelinya.

Begitulah setiap sore hingga malam dua pasang tangan lihai bekerja, mulai dari membuat adonan kue, memasaknya, hingga menjualnya. Mereka terlihat akrab, bahkan mesra dalam kadar sewajarnya, sesekali tangan perempuan itu mengambil sehelai lap bersih untuk membasuh peluh di kening lelaki di sisinya. Kadang, si lelaki berganti menggoda makhluk manis di sebelahnya, sekadar untuk memelihara semangat berjualan di antara mereka berdua.

Setiap sore atau malam, sepulang kerja saya melewati sepasang suami isteri yang berjualan kue pukis itu. Ia menetap di sebuah rumah kontrakan kecil di tepi jalan Cinangka, Sawangan, Depok. Di depan kontrakannya itulah mereka menaruh harapan rezekinya, di meja berukuran 1 x 1,5 meter, dan sebuah kompor yang di atasnya terletak loyang kue pukis.

Suatu hari, saya membeli kuenya. Mereka sudah cukup hafal dengan motor yang saya tumpangi, juga cukup familiar dengan kalimat salam pertama yang terucap ketika saya membuka helm.

Ceria, ramah, dan penuh senyum. Itulah wajah keseharian keduanya setiap kali saya singgah.

Malam itu, “Tiga bungkus ya…” satu untuk di rumah, dua bungkus lagi untuk penjaga keamanan di komplek tempat tinggal saya. Saya sering merasa harus berterima kasih kepada banyak orang dalam menjalani kehidupan, tidak terkecuali para penjaga keamanan di komplek. Meski pun hanya sebatas makanan kecil yang kerap saya bawakan setiap kali melewati pintu gerbang.

Tiga bungkus kue di tangan, saya pun menyodorkan selembar uang duapuluh ribuan, sedangkan harga tiga bungkus kue itu sebesar sembilan ribu rupiah. Satu menit, dua menit, sampai lima menit, lelaki penjual kue itu mencari-cari uang seribu rupiah, sementara yang sepuluh ribunya sudah di tangannya. Saya melihat gelagat tak tersedia uang seribu rupiah itu, “Sudah pak, biar saja kembaliannya cukup sepuluh ribu saja.”

Sontak isterinya menjawab, “Wah, nggak bisa. Ini korupsi namanya. Kami tidak mau mengambil hak orang lain”.

“Lho, saya jan ikhlas…” tak mau kalah saya.

“Kalau begitu, terima ini….” Perempuan itu menyodorkan beberapa kue yang telah dimasukkannya ke dalam plastik, kira-kira pas untuk harga seribu rupiah.

Saya kembalikan kue itu, kemudian ia memaksa bahkan menjejalkan kue itu ke dalam plastik di stang motor saya. Lalu saya kembalikan lagi kuenya, “Terima kasih, tapi saya ikhlas. Hanya seribu rupiah kok…”

“Benar ikhlas?” Saya mengangguk, perempuan itu pun menyerah seraya menengok kepada suaminya. Sang suami pun mengangguk.

***

Subhanallah... Seribu rupiah membuat seseorang begitu takut dianggap mengambil hak orang lain. Seribu rupiah begitu mengerikan di mata sepasang penjual kue pukis. Dan meski hanya seribu rupiah, tak mau ia mengambil sesuatu yang bukan haknya.

Allah telah memberi nasihat langsung melalui penjual kue pukis. Motor pun melaju tenang, namun tak terasa bulir air bening meleleh di sudut mata ini. Astaghfirullahal adziim… (dari penikmat kue pukis)

Parts KM - Sharing community Partsman TSO